Langsung ke konten utama

Postingan

Gundah Rembulan

Kudongakkan kepala menuju langit malam ini. Ketika mataku tertuju padanya, seketika terbelalak atas karuniaNya. Tetiba kurasa kian tenang dan nyaman. Tak mau lepas dari pelukan gelap malam. Inginku temani malam sampai fajar menyapanya. Kulihat bulan sedikit murung ditengah pancaran purnamanya. Kutanya mengapa, namun bungkam seribu bahasa. Ingin sekali ku hibur, kuajak dia menari berkeliling dunia. Namun kau nun jauh disana. Tak mampu ku gapai dengan ratusan bahkan ribuan tangga. Gemerlap sendunya hanya mampu kupandang dari jauh. Ah apalah aku ini. Bagaimana bisa hanya seorang aku bermimpi menari dengan rembulan di atas sana. Aaah...

Selamat Jalan Kung

Bau anyir daging masih menyelimuti rumah kami. Disela ku berpikir, menggambarkan dalam tulisan betapa ramainya ibu-ibu rumpi di dapur. Para ibu yang bertugas memasak jatah makan satu RT setelah penyembelihan qurban. Kondisi simbah semakin melemah. Sekitar 2 minggu lalu kakung jatuh, dan membuat tulang paha atasnya retak. Pasca kejadian kondisinya kian menurun, sampai akhirnya H+1 idul adha, di hari Jumat, simbah dipanggil sang Maha Kuasa. Simbah kakung dikenal sebagai ahli kayu bangunan yang terkenal di jamannya dulu. Namanya terkenal sampai seantero kabupaten. Masalah pasang atap rumah yang nota bene banyak terdapat susunan kayu, perhitungan dan kualitas kayu yang bagus seperti apa, sampai cara pemasangannya, simbah ahlinya. Dibayanganku simbah kakung adalah sosok laki-laki yang tangguh, berparas tampan, dan sosok diidolakan. Andai bisa kuintip masa jayanya dulu, betapa gagahnya kakungku ini. Batas umurnya di dunia telah habis dengan usia yang panjang, hampir satu abad. Simbah ter...

Kerinduan

Rindu Akankah kau merasakannya? Di sudutku terdiam, Kulantunkan sajak-sajak, Pada angin yang terkadang malas berdesir, Pada atom terkecil, melebihi debu, Pada kucing yang seperti tau apa yang sedang membuatku pilu. Desiran angin itu, Sajak yang aku kirimkan, Bisakah kau rasa? Angin yang dingin tetiba menyergapku, Bisakah kau resapi? Dapatkan kau pahami? Hanya sajak sederhana, bahkan paling. Mampukah kau hayati? Terkadang, aku takut, Akan rindu yang kian menyesakkan dada. Namun kali ini aku tak mau kalah dengannya. Ego yang menghanyutkan, Ego yang sering menguasai diri. Baiklah, akan kunikmati rindu ini, Akan selalu kuhangatkan. Kudekap dalam rengkuhan hati yang murni. Bukankah waktu itu nantinya akan datang? Bersaksi, akan rindu yang terus menggunung, Rindu yang tanpa sadar mengakar, menjalar, Dan rindu yang tak ada habisnya. Lagi-lagi hanya panjatan doa, Berkeluh pada sang pencipta.

Bosan

Disaat kita hanyut dalam tawa, bersenang seraya berjumpa dengan kawan lama, sahabat, sanak saudara atau orang terkasih lainnya. Disaat waktu melenggang tanpa toleransi, jarak menjadi bentangan ditambah kebiasaan yang berulang terkadang membuat titik jenuh yang menjemukan. Dan kala kebosanan kian merasuk, menumpuk kerinduan akan kebersamaan. Teknologi yang semakin canggih pun bukan obat yang manjur bagi kerinduan yang kian dalam. Bukankah memang kita berperan tidak melulu bahagia dengan kadar yang sama? ".... kebosanan adalah salah satu ciri kestabilan hubungan .. " Ada benarnya juga kata-kata dari line ini. Terutama hubungan gejolak dua hati. Khususnya suami istri. "...betapa kekanak-kanakan menyudahi hubungan hanya karena bosan."  InsyaAllah. Bismillah. Yap, alur cerita dariNya masih bergulir. Persahabatan, kebersamaan, debur ombak, canda tawa, tak bosannya membuat rindu. Entah jarak maupun waktu yang sedang membuat jeda cerita, berharap akan ada pertemuan...

Ketika Sendiri Membuka Galeri

Rintik hujan yang runtuh dari langit, Bau petrikor yang menyejukkan hati, Bangunan tua berpenghuni beliau usia senja, Emperan langgar mungil di tengah bangunannya, Payung, kamera, kucing, bros kupu, kacamata, Semua dikemas lengkap dengan canda tawa untuk kali pertama. Genggam selalu tali ini. Sekuat tenaga. Jangan pernah melepasnya. Bimbing kami ya Maha Kasih, dengan rahmat Mu, menuju jalan terindah Mu. 

Mengukir Histori

Terlalu banyak bayangan. Bayangan yang melangkah mengikuti. Membekas. Mengukir histori dengan seiring jalan. Desir angin terkadang urun menguatkan ingatan, membuka lembaran cerita bak dongeng kerajaan. Cerita yang episodenya belum selesai ditulis. Bersama menanti ujung dari episode demi episode yang  banyak akan goresan warna. Hanya panjatan doa bagi Sang Sutradara. Mengatur apiknya alur cerita. Tak pernah bisa dijabarkan gamblang lewat mana saja limpahan Nya untuk para pemainnya. Sebagai artis pilihan, usaha dan doa pula yang menyelamatkan perannya untuk terlihat tidak mengecewakan. Terimakasih atas setiap peran yang mengisi episode kehidupanku. Maaf jika peranku tak seberapa berguna atau bahkan pernah mengecewakanmu. Setiap peran yang berbeda umur, fisik, kepribadian, pengalaman, pekerjaan, latar belakang, kekayaan, dan perbedaan lainnya, aku yakin semua peran ingin mendapat penghargaan yang mulia dari Sang Sutradara. Penulis skenario Maha Agung, tak ada duanya. Semoga kita...

Di Sampingmu

Ijinkan aku menjadi fajar di awalmu. Dan senja di akhirmu. Karna saking fokusnya, kadang kita lupa siapa pemiliknya.