Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Kaki

Atap

  Kembali tersadar bahwa aku lagi-lagi duduk di sofa empuk, tempat ramai dan bising di setiap sudut. Kali ini ditemani dengan leker original. Di sudut yang akan sering kudatangi. Keramaian yang menjadi salah satu tempat pelarianku. Ya, setidaknya cukup banyak kenangan yang tertinggal disini, dengan begitu aku tidak pernah sendiri. Meskipun tak dipungkiri, terkadang rasanya begitu hening dalam gemerlap ramai. Sosok yang terkadang hangat dan tak jarang dingin itu seolah mengawasiku di sofa yang berbeda. Aku sibuk menghabiskan lekerku. Remah-remahnya berserakan menghiasi jilbab dan bajuku seperti anak kecil. Sesekali kulirik sosok tadi, namun sepertinya dia sudah tak mengawasiku lagi. Giliran layar 4 inchi yang membuatnya tersenyum penuh simpul. Aku pun seketika terbangun dari lamunan karena dering telepon handphone lama ku. Setelah kuangkat, kulirik lagi sosok itu. Hilang. Dia sudah enyah dari sofa yang empuk. Hanya saja, atap gedung yang disulap sebagai langit biru n...

Welcome

Menjadi dewasa ternyata seperti ini ya, kadang berfikir dunia dewasa tidak semenarik angan-angan waktu kecil dulu. Ketika banyak yang merindu usia muda, orang-orang ingin menikmati lagi lepasnya jadi anak muda.  Kebebasan untuk melakukan apa yang ia sukai tanpa berpikir panjang apa akibat-akibat yang timbul setelah itu. Tak gentar mencoba hal baru dan tidak takut dengan apapun. Tanpa beban dan pikulan pikiran yang begitu berat.  Hanya senang dan kegembiraan saja yang terlintas di alam pikirannya. Tak ada rasa resah karena putus cinta, keluh dan kesah karena menumpuknya pekerjaan dan tekanan dari berbagai sudut pandang. Saat belum ada prinsip-prinsip berkepentingan. Tak ada bosan dengan hari dan hidup yang menjemukan. Tak ada perang pemikiran yang berakibat fatal. Tak ada payah, hanyalah rekahan kegembiraan di setiap harinya. Hanya ada tangis atas dasar kasih sayang. Seperti balon yang lepas, seperti air yang mengalir. Ya, 'kita' sudah di dunia orang dewasa. Du...

Menguatkan dalam Diam

Ketika jarak yang memisahkan dan waktu yang masih belum bosan berputar, meskipun masih satu semesta namun berdua dihadapkan pada pola yang tak sama. Ketika raga tak bertemu raga, mata tak saling bertatap muka, hembusan udara pun bukanlah sebagai sarana. Waktu yang terus bergulir, setia menggantikan senja demi senja mengurangi jatah umur semesta. Kabar berita hanya sayup-sayup terdengar dari berkilo-kilo meter nun jauh di sana. Ya, hanya gaungnya saja yang terdengar sesekali. Sekali, namun menyesakkan dada. Rindu dan kesal selalu saja hadir bersama setelah itu. Seolah sepasang kekasih yang saling melengkapi. Orang-orang proyek memecah heningnya malam ini. Menemaniku dalam diamnya malam. Di dalam diam, aku bersembunyi untuk menguatkan. Ya, aku berharap berdua selalu menguatkan dalam diam. Dalam setiap alunan doa pada rahasia. Dan bersahabat dengan semesta.

Menyelaraskan

Terimakasih telah membiarkan tubuh dan pikiranmu lelah untukku dua hari ini. Terimakasih atas setiap cerita hingga kerisauanmu yang sempat dibagi. Terimakasih telah menjadi kakak yang amat bijak, kakak yang mengarahkan kemana aku harus melangkah demi kebaikan yang sekarang dipandang "lebay". Mendobrak setiap ketakutan yang selalu menjadi momok menyeramkan meskipun hanya dengan membayangkan saja. Terimakasih telah mendengarkan cerita-cerita risauku. Terimakasih telah mengajarkan tentang apa itu semesta. Apa itu memposisikan diri pada porsinya. Bukan ha nya untuk semata menyenangkan orang lain dan menghancurkan diri sendiri, atau hanya stuck di tempat. Terimakasih atas waktu yang kau bagi begitu saja untukku. Atas setiap keseriusanmu menanggapi keluh abstrakku. Atas pembelajaran alam dan keterhubungan satu dengan yang lainnya. Sampai pada ujung 'bahwa tidak ada yang kebetulan'. Aku percaya apa yang kamu alami, goncangan yang sudah kamu lewati lebih dari dahsy...

Hello April

"Sudah April lagi.."  Kudongakkan wajahku menatap lekat langit yang sedang berwajah murung pagi itu. Ya, sudah April lagi yah. Jumpa lagi dengan bulan istimewamu. Bulan kian berganti dengan yang baru, dan pikiranku masih saja tak berhenti melayang kesana kemari. Ramai riuh sendiri. Terkadang aku iri dengan burung dan kupu-kupu yang bebas mengepakkan sayap sesuka hati. Terbang wira wiri , menari bersama hembusan angin pribumi. Meliukkan badan,  selalu riang menikmati indahnya alam. Aah, punya sayap? Ngayal! Kamu tahu, kalau saja tanganku bisa menjadi sayap kapanpun aku mau, tak usah menunggumu meminta bertemu, tiap hari akan kuluangkan waktu menyambangimu. Meski jarak yang kutempuh lebih dari jauh, meski melewati kota demi kota yang riuh dan cukup sesak. Meski kamu sedang asyik dengan duniamu saat ini. Sekalipun meski kamu tidak melihatku ada disana. Impianku mungkin saat ini belum akan terwujud untuk terbang melintasi samudera kasat mata yang tak ada batasnya...

Move !

Seerat apapun aku mengikatnya, sepertinya tidak akan pernah cukup kuat. Selalu saja ada celah untuk lepas. Tapi maaf telah mengikat terlalu kencang. Maaf telah memaksa untuk tahu posisiku. Namun bukankah bunga akan mekar di saat waktu yang tepat? Waktu yang terkadang tak pernah kita sadari terlewat begitu saja. Seperti tiba-tiba rasanya, padahal jelas sudah tertulis skenario di baliknya. Setelah segala daya dikerahkan, ujungnya ya hanya bisa dipasrahkan semua. Bukankah skenarioNya lebih Maha Dahsyat daripada deretan film yang mengantongi award? Satu yang menjadi PR, jangan pernah larut dalam sedih. Apapun masalahnya, jangan biarkan dirimu rapuh terjebak dalam sebuah drama.  Bangkit dan tersenyumlah pada dunia. Masih banyak hal yang harus kamu selesaikan. Jangan pernah putuskan persahabatanmu. Bersikaplah baik sekalipun ada yang tak suka.  Akhir kata, hanya ucapan 'semangat' untuk kita. Untuk apapun yang sedang kamu rencana, untuk mengejar apa yang harus di...

Rindu?

Terlalu banyak rindu yang menumpuk, semakin bertumpuk hingga membludak membanjiri hati yang sebenarnya cukup luas jika hanya ditempati oleh satu nama saja. Terlalu berbahaya. Harus segera temukan suatu penetral entah bentuknya apa untuk bisa mengusir jauh banjir yang semakin lama mengendapkan racun yang mematikan itu.  Untuk apa selalu memupuk pohon yang bernama rindu namun mematikan untukmu?

Hey you! Ready for Hijrah?

Hijab menemaniku untuk taat padaNya. Berhijab bukan berarti sudah baik dan paham soal agama. Berhijab bukan berarti semua yang diperbuat sudah benar pada tempatnya. Berhijab bukan berarti tak pernah melakukan kesalahan. Karena lagi-lagi kita sedang dalam proses. Tinggal pilih mau proses seperti apa dan bagaimana. Allah mempunyai begitu banyak pilihan takdir bagi ciptaannya. Sebagai ciptaan yang paling sempurna, manusia dibebaskan untuk memilih mau kemana tujuan sebenarnya kita. Jadi, jika nanti suatu saat aku melakukan salah lagi, dan lagi, tolong bantu menegurku. Sadarkan aku, karena mungkin aku sedang lalai. Bantu aku untuk bangun. Tolong jangan biarkan diri yang hina ini semakin terperosok ke jurang. Masih banyak hal yang belum aku pahami, belum dipelajari. Masih banyak kebaikan yang luput di diri, dan entah mengapa terjadi begitu saja.  Jika aku salah, tolong ingatkan. Tolong salahkan aku, bukan agamaku. Karena sampai kapanpun aku masih terus belajar dan belajar....

Gundah Rembulan

Kudongakkan kepala menuju langit malam ini. Ketika mataku tertuju padanya, seketika terbelalak atas karuniaNya. Tetiba kurasa kian tenang dan nyaman. Tak mau lepas dari pelukan gelap malam. Inginku temani malam sampai fajar menyapanya. Kulihat bulan sedikit murung ditengah pancaran purnamanya. Kutanya mengapa, namun bungkam seribu bahasa. Ingin sekali ku hibur, kuajak dia menari berkeliling dunia. Namun kau nun jauh disana. Tak mampu ku gapai dengan ratusan bahkan ribuan tangga. Gemerlap sendunya hanya mampu kupandang dari jauh. Ah apalah aku ini. Bagaimana bisa hanya seorang aku bermimpi menari dengan rembulan di atas sana. Aaah...

Bosan

Disaat kita hanyut dalam tawa, bersenang seraya berjumpa dengan kawan lama, sahabat, sanak saudara atau orang terkasih lainnya. Disaat waktu melenggang tanpa toleransi, jarak menjadi bentangan ditambah kebiasaan yang berulang terkadang membuat titik jenuh yang menjemukan. Dan kala kebosanan kian merasuk, menumpuk kerinduan akan kebersamaan. Teknologi yang semakin canggih pun bukan obat yang manjur bagi kerinduan yang kian dalam. Bukankah memang kita berperan tidak melulu bahagia dengan kadar yang sama? ".... kebosanan adalah salah satu ciri kestabilan hubungan .. " Ada benarnya juga kata-kata dari line ini. Terutama hubungan gejolak dua hati. Khususnya suami istri. "...betapa kekanak-kanakan menyudahi hubungan hanya karena bosan."  InsyaAllah. Bismillah. Yap, alur cerita dariNya masih bergulir. Persahabatan, kebersamaan, debur ombak, canda tawa, tak bosannya membuat rindu. Entah jarak maupun waktu yang sedang membuat jeda cerita, berharap akan ada pertemuan...

Ketika Sendiri Membuka Galeri

Rintik hujan yang runtuh dari langit, Bau petrikor yang menyejukkan hati, Bangunan tua berpenghuni beliau usia senja, Emperan langgar mungil di tengah bangunannya, Payung, kamera, kucing, bros kupu, kacamata, Semua dikemas lengkap dengan canda tawa untuk kali pertama. Genggam selalu tali ini. Sekuat tenaga. Jangan pernah melepasnya. Bimbing kami ya Maha Kasih, dengan rahmat Mu, menuju jalan terindah Mu. 

Mengukir Histori

Terlalu banyak bayangan. Bayangan yang melangkah mengikuti. Membekas. Mengukir histori dengan seiring jalan. Desir angin terkadang urun menguatkan ingatan, membuka lembaran cerita bak dongeng kerajaan. Cerita yang episodenya belum selesai ditulis. Bersama menanti ujung dari episode demi episode yang  banyak akan goresan warna. Hanya panjatan doa bagi Sang Sutradara. Mengatur apiknya alur cerita. Tak pernah bisa dijabarkan gamblang lewat mana saja limpahan Nya untuk para pemainnya. Sebagai artis pilihan, usaha dan doa pula yang menyelamatkan perannya untuk terlihat tidak mengecewakan. Terimakasih atas setiap peran yang mengisi episode kehidupanku. Maaf jika peranku tak seberapa berguna atau bahkan pernah mengecewakanmu. Setiap peran yang berbeda umur, fisik, kepribadian, pengalaman, pekerjaan, latar belakang, kekayaan, dan perbedaan lainnya, aku yakin semua peran ingin mendapat penghargaan yang mulia dari Sang Sutradara. Penulis skenario Maha Agung, tak ada duanya. Semoga kita...

Di Sampingmu

Ijinkan aku menjadi fajar di awalmu. Dan senja di akhirmu. Karna saking fokusnya, kadang kita lupa siapa pemiliknya.

Yes, I am

Diingatkan lagi. Setelah jauh aku berjalan dari kebohongan yang sengaja dibuat, lagi-lagi ada saja yang mengingatkan. Dengan bangga kukabarkan berita kebahagiaan palsu itu pada dunia kecilku. Kurangkai cuilan puzzle yang tersedia, satu demi satu dan telah utuh menjadi tubuh. Bodohnya aku terlalu cepat percaya, yang kuanggap tak mungkin ada kebohongan ternyata sebaliknya. Hal yang lucu sebenarnya, namun tidak menurutku. Yang jelas kabar bahagia yang menghampiri akan selalu ku amini. Terlalu jauh. Sudahlah kubiarkan waktu yang menghapus sedikit demi sedikit ingatanku tentang hal itu. Hal itu pun yang mengingatkanku.

Tandjoeng Mas

A Great Project. Selamat.

Cool

Is it cool? Of course!

Jelouse

I'am Jelouse.

Your Puzzle

Potong close up. Puzzle.

Apa?

Apa?

Pesisir

Pagi. Ombak laut.