Kembali tersadar bahwa aku lagi-lagi duduk di sofa empuk, tempat ramai dan bising di setiap sudut. Kali ini ditemani dengan leker original. Di sudut yang akan sering kudatangi. Keramaian yang menjadi salah satu tempat pelarianku. Ya, setidaknya cukup banyak kenangan yang tertinggal disini, dengan begitu aku tidak pernah sendiri. Meskipun tak dipungkiri, terkadang rasanya begitu hening dalam gemerlap ramai. Sosok yang terkadang hangat dan tak jarang dingin itu seolah mengawasiku di sofa yang berbeda. Aku sibuk menghabiskan lekerku. Remah-remahnya berserakan menghiasi jilbab dan bajuku seperti anak kecil. Sesekali kulirik sosok tadi, namun sepertinya dia sudah tak mengawasiku lagi. Giliran layar 4 inchi yang membuatnya tersenyum penuh simpul. Aku pun seketika terbangun dari lamunan karena dering telepon handphone lama ku. Setelah kuangkat, kulirik lagi sosok itu. Hilang. Dia sudah enyah dari sofa yang empuk. Hanya saja, atap gedung yang disulap sebagai langit biru n...