Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Prosa

Sunyi

Malam selalu menawarkan kesunyian. Namun manusia memilih gaduh untuk mengisinya. Namun kegalauan hati memaksa diri merangkak menuju sunyi.

Lagi Lagi

Hai, rindu. Petang namun tak gelap sempurna. Sosok bola putih bercahaya terang malam itu. Purnama paripurna. Hanya satu yang disayangkan, ini kelu, menambah rindu. Tak ada yang namanya permisi untuk rindu. Tak ada ikatan waktu dan tempat untuknya. Dia datang dan pergi sesukanya. Mengintai pikiran dan hati manusia. Rindu lelehkan bekunya es batu. Rindu menghalusinasikan waktu yang berjalan menjadi begitu lamban. Rindu mengundang senyum, menyuguhkan kenangan, hingga luberan mata air di pipi. Sesak dada yang tak tertahankan menambah drama saat rindu sedang melanda. Ketika dirundungnya, hati terkadang tak sadar secara penuh. Pun pikiran. Hal-hal sepele sangat mudah menambah keadaan semakin runyam saja. Memancing emosi. Sensitif. Ada-ada saja. Rindu kian menjalar, merangsang manusia menjadi pecandu. Hanya dari hal sederhana melihat album penuh kenangan. Mengingat momen kebersamaan yang tak bisa dibeli dengan apapun. Mengingat apa yang seharusnya tidak diingat. Membuka lembaran mem...

Kerinduan

Rindu Akankah kau merasakannya? Di sudutku terdiam, Kulantunkan sajak-sajak, Pada angin yang terkadang malas berdesir, Pada atom terkecil, melebihi debu, Pada kucing yang seperti tau apa yang sedang membuatku pilu. Desiran angin itu, Sajak yang aku kirimkan, Bisakah kau rasa? Angin yang dingin tetiba menyergapku, Bisakah kau resapi? Dapatkan kau pahami? Hanya sajak sederhana, bahkan paling. Mampukah kau hayati? Terkadang, aku takut, Akan rindu yang kian menyesakkan dada. Namun kali ini aku tak mau kalah dengannya. Ego yang menghanyutkan, Ego yang sering menguasai diri. Baiklah, akan kunikmati rindu ini, Akan selalu kuhangatkan. Kudekap dalam rengkuhan hati yang murni. Bukankah waktu itu nantinya akan datang? Bersaksi, akan rindu yang terus menggunung, Rindu yang tanpa sadar mengakar, menjalar, Dan rindu yang tak ada habisnya. Lagi-lagi hanya panjatan doa, Berkeluh pada sang pencipta.

Cumbu Waktu

Termenungku dalam lamunan Terdengar gema di sudut ruang hampa Bersama detak jarum yang tak bosan berputar Merdu hembusan angin tak hanya kurasa Kudengar jelas melodinya Senyap Kunikmati kepungan sunyi Sekali lagi kunikmati waktu yang acuh denganku Tawa bahagia dan sedih gulana campur sudah Terhenyak waktu Waktu yang menunjukkan, mengantarkan dan mengajarkan Hey, tak kurang dua puluh tahun sejak hari peresmianmu sambut dunia Sudah triliun detik berputar Berjuta lembaran telah penuh akan tinta Warna yang tak terhitung lagi memeriahkan lukisan dinding hati Sudah lebih dari ribuan kilometer kau tapaki Hingga akhirnya Kita berada pada satu titik Tak pernah terbayang Bahkan sempat tak diharap sebelumnya Kutermenung lagi Kali ini siul jangkring mulai bersautan minta posisi Sembari waktu yang terus saja berlalu Kuucapkan terimakasih Untuk setiap waktu yang rela kau bagi Ya, waktu Tunjukkan kuasamu Diakhir kata, keheningan masih saja mengepung Mencekam, cuk...

Bapakku Sayang

Akan kukabarkan pada dunia Bapakku yang luar biasa, bukan seperti bapak lainnya Meskipun dirasa keras dalam bernada, bapakku bukan tipe penyombong Bukan pengumbar sayang pada keluarga ke keluarga lainnya Maafkan jika anakmu ini belum jadi apa-apa Maafkan keluhanku yang sering terlontar padamu Maafkan atas sikapku yang manja ingin selalu dimengerti Terimakasih untuk segala hal yang pernah tercipta Terimakasih untuk cinta kasihmu Terimakasih yang tak akan pernah putus oleh waktu Terimakasih, pak Bapakku sayang Selalu sayang Selalu sehat Selalu bahagia, nggih Aku berdoa untukmu Selamanya...

Tumpah Ruah

Berantakan Berserakan, ribut sekali Mobil berdecit terburu Angin was wis wus berisyarat Menggumpal membentuk formasi Bersama resak dan puing runtuhan Kulihat petir membelah bumi Rintikan jatuh bergerombol, tak pernah sendiri Ranting-ranting rapuh pasrah menjatuhkan tubuh Terlindas diantara roda-roda yang terburu melaju Menjadi serpihan yang membekas sementara Melodi hujan terus berkumandang Kali ini gemercik yang kontras bersua Sedikit gemuruh menggelegar Aku kembali duduk bersila Ah hujan Datanglah semaumu, menemaniku Menyeruput kuah mie instan yang masih kental Di tengah tumpah ruahmu Masih sibuk mengguyur bumi Yang sedang demam tinggi

Mengingatkanku

Dua hari sudah sang langit berisyarat Adalah potongan sketsa yang tak berujung Teka-teki yang tak bisa dipecahkan oleh orang amatir sepertiku Disetiap bulir rintik yang jatuh membelai dasar Penanda romantika alam diantara keduanya Inginku memeluk senja bersamamu Beralun hembusan angin yang atis Diantara padang ilalang Nyanyian jangkrik yang mendelik Berimaji berdua menembus negeri dongeng Hari ini Udara yang membelai lembut menyentuh pori tubuhku Kucium hawa khas permadani Percis sekali Seketika menyeringai mengingatkanku Imajiku melayang jauh kembali ke waktu itu Saat senja bersama sosokmu Memburu waktu Yang kian berlalu

Bunda

IBUNDA TERCINTA oleh : Umbu Landu Paranggi Perempuan itu bernama duka, derita, dan senyum yang abadi tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi dari ujung rambut sampai telapak kakinya Perempuan itu bernama koban, terimakasih, restu, dan ampunan dengan tulus setia telah melahirkan berpuluh lakon, nasib, dan sejarah manusia Perempuan itu bernama cinta kasih sayang, tiga patah kata purba di atas pundaknya setiap anak berdiri menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya (Solo Berseri 2006) Sebelumnya aku bercerita, nostalgia mengikuti lomba baca puisi islami tingkat SMP/MTs Se-Kabupaten. Dan ini, adalah puisi pilihan yang aku latunkan sekitar delapan tahun silam.

Rindu Kasihku

RINDU KASIHKU UNTUK IBU oleh : Suksmawan Yant Mujiyanto Rindu kasihku untukmu, Ibu Indah syahdu deras menderu Seperti angin kencang di laut biru Maka lajulah bahteraku laju Menempuh pelayaran nun jauh hati pun berbinar Elok bermekaran bagai kelopak-kelopak mawar Bersama kecipak ombak, dibuai badai ditimbang gelombang Mantap pasti menuju teluk nan teduh di seberang Adalah lembut pangkuanmu nan harum, Ibu Karena dikaulah sejatinya hatiku, yang begitu dekat Tempat aku tenteram bercurhat Mencurahkan rasa, berbagi suka duka Karena akhlakmu nan cantik, penuh limpahan kasih Keikhlasan bercahaya sepanjang perjalanan Tak pernah lelah mensyukuri nikmat karunia Tawakal sabar atas segala ujian dan duka nestapa Ibu oh Ibu Yakinku penuh di telapak kakimu Terbentang firdaus biru Karena asah asih asuhmu nan tulus Bagi putra putrimu Kau bimbing kami dengan penuh kesabaran dan kesadaran Meniti jalan lurus dengan suksma kudus Doa suci muliaku deras mengalir untukmu Bersama...

Selimut

Aku menggigil Segera saja jendela tua itu kututup rapat Sudah cukup lama, tak seperti biasanya Ketika batin ini sudah terbiasa dengan ocehan Beo Entah mengapa geram yang sempat hilang kini muncul lagi Mungkin saking merdunya Beo terus saja menggoda Berkicau memenuhi gendang telingaku Sedikit pun tak melirik amarahku yang membara Senja sore itu seolah tau isi hatiku Dia tenangkanku dengan rintikan melodinya Malam pun terasa syahdu, guyuran itu tak kunjung berhenti Aku semakin menggigil karenanya, lunglai Terhempas angin malam yang kian menguasai raga Terasa hening, lengkap sudah rasanya Malam ini Sedikitpun tak terlintas kristal es dibenakku Ya, itu mempercepat aku untuk membeku Keheningan ini sungguh settingan yang apik untuk berpejam Mendengarkan musik rintikan hujan Mengusir keheningan malam yang sebenarnya riuh menggelegar Sayang, aku terlalu buta Aku terlalu pikun Sedari awal tubuhku mengginggil Sudah ada selimut yang selalu setia menantiku Kapanpun ke...

Ketika

Ketika satu bintang diatas langit berkenan turun menemuimu dan memberikan satu harapan yang mampu menentramkan hatimu. Ketika bumi yang panas mendapatkan janji buncahan air dari langit. Ketika kamu percaya dengan harapan yang diberikan bintang kala itu. Ketika langit tak kunjung membagi satu tetes air pun ke bumi yang semakin panas. Ketika kamu terus menunggu harapan itu terjadi. Ketika bumi yang memerah semakin haus. Ketika bintang hanya memberi harapan palsunya. Ketika langit yang tega membiarkan bumi semakin menggila. Ketika semua hanya omong kosong. Temukan dirimu. Yakinlah, ada cahaya dibalik kegelapan yang mengungkungmu

Senja Di Antara Kita

Aku bahagia Sungguh, tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata Disenja yang pernah aku bayangkan sebelumnya Di angan jauh pernah terlintas dalam benakku sungguh tidak nyata Senja kemarin, pasir dan karang adalah saksinya Aku tidak tau kapan akan ada kesempatan seperti itu lagi Aku tidak tahu kapan semuanya akan jelas Aku juga tidak tahu mengapa dan bagaimana Aku hanya yakin, mengukuhkan hati ini untuk lebih percaya dan memahami setiap apa yang terjadi. yaa.. Aku masih berusaha memahami dan aku.. Aku harus mengerti  Aku harus berjiwa besar Aku harus belajar dari kesalahan  Aku harus bangkit, pantang mengeluh Aku harus tau batasan-batasan yang ada Aku harus berani bersikap Aku harus berani mengambil resiko Aku harus menjadi dewasa Aku harus menjaga sikap Aku harus menjadi pribadi sendiri Aku harus kuat dan yakin selalu ada yang dimintai pertolongan Aku baru memulai semuanya, tak boleh lari dari kenyataan lagi Senja itu selalu ...

Pagi

Pagi tak pernah bosan menyambutku Pagi yang terkadang menyengat Pagi yang terkadang dingin Pagi yang terkadang berlalu tanpa menggubrisku Pagi yang membuatku tenang hingga membawaku terlelap lagi Pagi yang akhir-akhir ini terasa sangat cepat dilalui terkadang membuatku takut Pagi yang aku lewati begitu saja, sering membuatku sedih Pagi yang pernah menemani menitihkan keluh kesahku Pagi yang pernah membuatku sangat sedih Pagi yang pernah membuatku sangat bahagia Pagi selalu menemaniku Pagi… Terimakasih

Diantaranya

Antara cinta, persahabatan dan jabatan Semua itu tak kumiliki Apabila boleh memilih Kan aku pilih persahabatan saja Karena bagiku, sahabat adalah tempat suka dan duka Dimana kita terpuruk dan jatuh, Ada sahabat yang kan terus temaniku Sahabat sejati bukanlah yang memandang harta, kehormatan dan kebanggaan Sahabat sejati adalah, adakalanya saat kita terluka dia akan terus menemani Namun saat kita bahagia, dia hanya akan melihat kita dari jauh dan terus mendoakannya Apabila sahabat kita mencintai yang kita cintai Lepaskanlah cintamu Berikanlah padanya Karena Tuhan Maha sempurna _Sri Mulyani

Biru

Biru hatiku seperti birunya lautan Bedanya hanya lautan cerah sedangkan diriku biru karena lebam luka cinta Bius amis harumnya laut, bius amis karena menangis darah dari air mataku Aku ingin bersembunyi dibalik rona senja, kemerah-merahan menutup sore yang kelam Dengan malu aku permisi menepi tak pantas sepertiku dibandingkan citra laut biru, dan pasangnya ombak mengarah padaku Aku melambai walau gusar tak kunjung reda Sampai jumpa nanti, pasti aku datang kembali Dan saat itu giliranmu menyaksikan biru mata hatiku yang berbinar karena menemukan cinta _Sri Mulyani

Ungkapan Perasaan

Sri Mulyani, salah satu teman yang sampai saat ini berjuang hidup melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Dia senang menulis puisi untuk mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan. Kehidupannya yang sederhana memaksa fisik dan batinnya lebih kuat dari orang kebanyakan. Tak pernah patah arang menjalani apa yang sudah digariskan. Dia sempat memintaku untuk mem posting puisi-puisinya. Dan aku mengiyakannya. Beberapa puisinya juga sempat dimuat di Majalah lokal Jogja bernama Gradasi edisi Oktober 2012. Ini salah satu puisinya. Ajari Aku Atas nama jiwa dan raga aku serahkan cintaku padamu Aku ikhlaskan setiaku padamu Karena kamu yang lebih pantas menyandingnya Karena aku sendiri Aku tak akan pernah pantas bersamamu Ku labuhkan hati ini pada yang Maha Adil dan bijaksana Aku pinta Tuhan Ajarkanlah padaku rasa damai dan tiada dendam Aku hanya ingin menjadi seseorang yang dihargai Dan selalu diberikan kepercayaan Kepada siapa saja Yang pernah mengenal dan be...