Langsung ke konten utama

Postingan

Kerinduan

Rindu Akankah kau merasakannya? Di sudutku terdiam, Kulantunkan sajak-sajak, Pada angin yang terkadang malas berdesir, Pada atom terkecil, melebihi debu, Pada kucing yang seperti tau apa yang sedang membuatku pilu. Desiran angin itu, Sajak yang aku kirimkan, Bisakah kau rasa? Angin yang dingin tetiba menyergapku, Bisakah kau resapi? Dapatkan kau pahami? Hanya sajak sederhana, bahkan paling. Mampukah kau hayati? Terkadang, aku takut, Akan rindu yang kian menyesakkan dada. Namun kali ini aku tak mau kalah dengannya. Ego yang menghanyutkan, Ego yang sering menguasai diri. Baiklah, akan kunikmati rindu ini, Akan selalu kuhangatkan. Kudekap dalam rengkuhan hati yang murni. Bukankah waktu itu nantinya akan datang? Bersaksi, akan rindu yang terus menggunung, Rindu yang tanpa sadar mengakar, menjalar, Dan rindu yang tak ada habisnya. Lagi-lagi hanya panjatan doa, Berkeluh pada sang pencipta.

Bosan

Disaat kita hanyut dalam tawa, bersenang seraya berjumpa dengan kawan lama, sahabat, sanak saudara atau orang terkasih lainnya. Disaat waktu melenggang tanpa toleransi, jarak menjadi bentangan ditambah kebiasaan yang berulang terkadang membuat titik jenuh yang menjemukan. Dan kala kebosanan kian merasuk, menumpuk kerinduan akan kebersamaan. Teknologi yang semakin canggih pun bukan obat yang manjur bagi kerinduan yang kian dalam. Bukankah memang kita berperan tidak melulu bahagia dengan kadar yang sama? ".... kebosanan adalah salah satu ciri kestabilan hubungan .. " Ada benarnya juga kata-kata dari line ini. Terutama hubungan gejolak dua hati. Khususnya suami istri. "...betapa kekanak-kanakan menyudahi hubungan hanya karena bosan."  InsyaAllah. Bismillah. Yap, alur cerita dariNya masih bergulir. Persahabatan, kebersamaan, debur ombak, canda tawa, tak bosannya membuat rindu. Entah jarak maupun waktu yang sedang membuat jeda cerita, berharap akan ada pertemuan...

Ketika Sendiri Membuka Galeri

Rintik hujan yang runtuh dari langit, Bau petrikor yang menyejukkan hati, Bangunan tua berpenghuni beliau usia senja, Emperan langgar mungil di tengah bangunannya, Payung, kamera, kucing, bros kupu, kacamata, Semua dikemas lengkap dengan canda tawa untuk kali pertama. Genggam selalu tali ini. Sekuat tenaga. Jangan pernah melepasnya. Bimbing kami ya Maha Kasih, dengan rahmat Mu, menuju jalan terindah Mu. 

Mengukir Histori

Terlalu banyak bayangan. Bayangan yang melangkah mengikuti. Membekas. Mengukir histori dengan seiring jalan. Desir angin terkadang urun menguatkan ingatan, membuka lembaran cerita bak dongeng kerajaan. Cerita yang episodenya belum selesai ditulis. Bersama menanti ujung dari episode demi episode yang  banyak akan goresan warna. Hanya panjatan doa bagi Sang Sutradara. Mengatur apiknya alur cerita. Tak pernah bisa dijabarkan gamblang lewat mana saja limpahan Nya untuk para pemainnya. Sebagai artis pilihan, usaha dan doa pula yang menyelamatkan perannya untuk terlihat tidak mengecewakan. Terimakasih atas setiap peran yang mengisi episode kehidupanku. Maaf jika peranku tak seberapa berguna atau bahkan pernah mengecewakanmu. Setiap peran yang berbeda umur, fisik, kepribadian, pengalaman, pekerjaan, latar belakang, kekayaan, dan perbedaan lainnya, aku yakin semua peran ingin mendapat penghargaan yang mulia dari Sang Sutradara. Penulis skenario Maha Agung, tak ada duanya. Semoga kita...

Di Sampingmu

Ijinkan aku menjadi fajar di awalmu. Dan senja di akhirmu. Karna saking fokusnya, kadang kita lupa siapa pemiliknya.

Mulutku Harimauku

Tanpa mengaca dan mungkin memang enggan mengaca, diri ini merasa paling benar. Dan tetap sombong dengan perspektif sendiri. Ketika dengar sekelebat omongan seseorang yang kurang enak tentang kita, langsung marah dan secara tidak langsung memblack list orang tersebut, dimasukkan dalam daftar "musuh". Belum saja kebenaran dan maksud sesungguhnya kita ketahui sudah menjudge orang seperti itu. Sering terjadi hal-hal seperti itu. Entah seperti apa maksud sesungguhnya, namun hati ini sudah terlanjur sakit akan celotehan yang wira wiri. Mulutku harimauku. Gampang kita komentar orang lain tanpa beban, namun sebaliknya jika diri ini dikomentari juga tidak terima. Sesakit apa hati kita, ketika sendiri belum sadar akan pentingnya menjaga lisan (dan hati tentunya) maka masalah seperti itu akan terus ada. Akan ada rasa tidak terima dengan "guyonan" yang dilontarkan pada kita. Setelah hati dan lisan dijaga, insyaAllah ketenangan akan di dapat. Dan sudah pasti bisa meny...

Bersua dengan Senja

Ramadhan kian berlalu, meninggalkan umat muslim di seluruh penjuru. Bulan istimewa yang selalu dinanti kedatangannya. Takbir kemenangan mulai terdengar dikumandangkan, menggema ke seluruh ruas-ruas kota. Hari kemenangan sekaligus hari perpisahan untuk bulan seribu bulan. Tak ada satupun orang menolak untuk bertemu denganmu di tahun-tahun berikutnya. Satu sudut yang selama ini tidak terlalu kupikirkan. Setelah takbir memecah riuhnya alam, setelah ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri, kujabat tangan renta itu, kucium, dan kudengar keluh kesah di hadapannya langsung. Hampir satu abad, mbah kakung masih cukup mandiri dan bugar. Tak pernah kudengar beliau menggertak marah karena suatu hal, tak pernah sekalipun. Hanya terkadang mengeluh sakit. Maklum, waktu yang membawanya ke titik itu. Alhamdulillah simbah masih diberikan umur panjang, karena tak sedikit rekan perjuangannya, bahkan istrinya dipanggil terlebih dulu. Rumah berisikan 6 orang. Ketika aku, bapak, dan ibu ke...