Langsung ke konten utama

Postingan

Hey! Aku kangen.

Sepulang kerja di waktu yang sudah memasuki Isya, bukannya segera bebersih dan menunaikan kewajiban, aku malah tiduran. Kebiasaan kalo pulang ke rumah malem ya gitu, teparan dulu di depan tivi, kalo capeknya udah rada ilang baru deh bebersih dll. Waktu itu kutempelkan tangan tepat di atas jidat, lama sekali memang. Bapak tiba-tiba bilang "apa pusing, kog ditempelin gitu?" Aku ga pusing, cuman memang lagi ingin berpose begitu aja. Denger itu, mak deg hatiku. Sepele memang, tapi ngena. Bapak itu tipe cuek, jarang banget menunjukkan perhatian pada anak-anaknya. Tiba-tiba aku kangen masa kecilku dulu. Masa dimana aku masih lugu-lugunya, dimana aku belum mengenal yang namanya cinta. Hohoo.. Aku kangen digendong bapak. Dulu waktu usiaku belum genap 10th, setelah ketiduran di depan tivi, bapak sering menggendongku untuk diletakkan dengan nyaman di kamar tidurku. Tiba-tiba aku cemburu ketika ibu mulai sibuk dan menyerahkan segala sesuatunya pada kami bertiga, anak-anak...

Ciptakan Kesempatanmu Sendiri

Sudah berapa banyak muslimah yang tidak diterima suatu perusahaan karena jilbabnya? Sudah berapa banyak muslimah diminta menanggalkan jilbabnya untuk sebuah pekerjaan? Sudah berapa banyak juga muslimah yang rela menanggalkan jilbabnya untuk mengejar karir dunianya? Ironis memang. Dilema pasti, ketika muncul godaan dan keadaan iman lagi surut.  Disamping itu banyak juga yang masih kuat imannya bingung mencari pekerjaan yang bisa menerima jilbabnya. Salut ketika aku menemukan foto di handphone ibu kemarin. Ada seorang ibu yang gigih sedang mengutak atik ban motor yang bocor. Beliau adalah seorang ibu dari 4 orang anak. Jilbab lebarnya sama sekali tidak membatasinya bergerak. Beliau ciptakan mata pencahariannya sendiri. Secara tidak langsung beliau menggebrak orang-orang yang bersuara sumbang tentang jilbab besar. Bukankah sudah jelas jika wanita muslimah yang berjilbab lebar tidak membatasi ruang geraknya? Ketika kesempatan itu susah untuk dicari, maka beliau ciptakan se...

Move !

Seerat apapun aku mengikatnya, sepertinya tidak akan pernah cukup kuat. Selalu saja ada celah untuk lepas. Tapi maaf telah mengikat terlalu kencang. Maaf telah memaksa untuk tahu posisiku. Namun bukankah bunga akan mekar di saat waktu yang tepat? Waktu yang terkadang tak pernah kita sadari terlewat begitu saja. Seperti tiba-tiba rasanya, padahal jelas sudah tertulis skenario di baliknya. Setelah segala daya dikerahkan, ujungnya ya hanya bisa dipasrahkan semua. Bukankah skenarioNya lebih Maha Dahsyat daripada deretan film yang mengantongi award? Satu yang menjadi PR, jangan pernah larut dalam sedih. Apapun masalahnya, jangan biarkan dirimu rapuh terjebak dalam sebuah drama.  Bangkit dan tersenyumlah pada dunia. Masih banyak hal yang harus kamu selesaikan. Jangan pernah putuskan persahabatanmu. Bersikaplah baik sekalipun ada yang tak suka.  Akhir kata, hanya ucapan 'semangat' untuk kita. Untuk apapun yang sedang kamu rencana, untuk mengejar apa yang harus di...

Rindu?

Terlalu banyak rindu yang menumpuk, semakin bertumpuk hingga membludak membanjiri hati yang sebenarnya cukup luas jika hanya ditempati oleh satu nama saja. Terlalu berbahaya. Harus segera temukan suatu penetral entah bentuknya apa untuk bisa mengusir jauh banjir yang semakin lama mengendapkan racun yang mematikan itu.  Untuk apa selalu memupuk pohon yang bernama rindu namun mematikan untukmu?

Selamat Tinggal

Halo kamu, tak terasa tahun sudah mulai berganti lagi. Masih ingatkah kau saat memberi tetuah kata lewat tulisanmu malam tahun baru waktu itu? Sudah berapa tahun lamanya. Aku pun tidak begitu mengingat tanggalnya. Masih kau pegangkah kata-katamu dulu?  Semakin bertambah umur, mungkin bukan perayaan yang harusnya dirayakan. Justru malah harusnya diri yang masih kotor ini lebih banyak berkaca lagi. Sesekali bolehlah menoleh dari spion untuk bebenah diri agar tidak lagi terjerembam dalam jurang. Setiap dari kita memiliki prosesnya sendiri. Apa-apa yang ku alami tentu beda dengan kamu, beda dengan dia. Semua sudah ada alurnya sendiri.  Namun sifat iri yang masih saja datang seperti tak pernah bosan untuk mengotori hati. Sungguh hinanya si kecil ini. Apa yang diberikan oleh sang Pencipta selalu saja kurang, selalu saja ingin menjadi seperti orang lain. Hey! Wake up! Okeoke. Mungkin sikap iri harus ditempatkan pada tempatnya. Iri yang menjadi motivasi untuk berkem...

Hey you! Ready for Hijrah?

Hijab menemaniku untuk taat padaNya. Berhijab bukan berarti sudah baik dan paham soal agama. Berhijab bukan berarti semua yang diperbuat sudah benar pada tempatnya. Berhijab bukan berarti tak pernah melakukan kesalahan. Karena lagi-lagi kita sedang dalam proses. Tinggal pilih mau proses seperti apa dan bagaimana. Allah mempunyai begitu banyak pilihan takdir bagi ciptaannya. Sebagai ciptaan yang paling sempurna, manusia dibebaskan untuk memilih mau kemana tujuan sebenarnya kita. Jadi, jika nanti suatu saat aku melakukan salah lagi, dan lagi, tolong bantu menegurku. Sadarkan aku, karena mungkin aku sedang lalai. Bantu aku untuk bangun. Tolong jangan biarkan diri yang hina ini semakin terperosok ke jurang. Masih banyak hal yang belum aku pahami, belum dipelajari. Masih banyak kebaikan yang luput di diri, dan entah mengapa terjadi begitu saja.  Jika aku salah, tolong ingatkan. Tolong salahkan aku, bukan agamaku. Karena sampai kapanpun aku masih terus belajar dan belajar....

Gundah Rembulan

Kudongakkan kepala menuju langit malam ini. Ketika mataku tertuju padanya, seketika terbelalak atas karuniaNya. Tetiba kurasa kian tenang dan nyaman. Tak mau lepas dari pelukan gelap malam. Inginku temani malam sampai fajar menyapanya. Kulihat bulan sedikit murung ditengah pancaran purnamanya. Kutanya mengapa, namun bungkam seribu bahasa. Ingin sekali ku hibur, kuajak dia menari berkeliling dunia. Namun kau nun jauh disana. Tak mampu ku gapai dengan ratusan bahkan ribuan tangga. Gemerlap sendunya hanya mampu kupandang dari jauh. Ah apalah aku ini. Bagaimana bisa hanya seorang aku bermimpi menari dengan rembulan di atas sana. Aaah...