Langsung ke konten utama

Postingan

Knowing Every Particular Object

Salah satu cara mengisi waktu di kosan ketika pikiran sedang buntu adalah KEPO. Banyak orang yang mengatakan "KEPO" tanpa tahu darimana awal kata ini berasal. KEPO adalah singkatan dari Knowing Every Particular Object . Rasa keingintahuan lah yang mendasari melakukan KEPO. Dalam dunia social media, KEPO yang biasa dilakukan yakni dengan mengintip berita-berita terupdate sampai berita lampau dari sebuah objek. Adik, kakak, teman, keponakan, artis, pejabat sampai presiden pun bisa diketahui dengan sekali klik saja. Teknologi sudah semakin canggih, media sosial sudah banyak ragamnya. Informasi yang dicari bisa dengan cepat didapat dan di akses di manapun kamu berada. Terkecuali daerah pedalaman tentunya. Sisi positif dan negatif KEPO adalah selain kamu mendapatkan informasi yang kamu inginkan, kamu juga bisa dilanda gundah gulana. Yang pernah aku rasakan ketika mulai KEPO adalah menyesal, iri, merasa bersalah, galau, kasihan, geregetan, jengkel, ingin nangis, ingin banting...

Catatan Di Jogja

Kami bertujuh, termasuk fotografer Sebelumnya: Dia Yang Selalu Tepat Waktu Satu jam kemudian kami sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta. Keluar dari kereta, kami melangkah meninggalkan stasiun, menyeberang jalan yang padat kendaraan, panas-panasan dan segera menelusuri Malioboro disiang bolong . Belum ada setengah jalan kami sudah terengah-engah, kami beristirahat dibawah pohon yang rindang. Ada dua pengamen yang menghampiri kami, “Selamat menikmati kota Yogyakarta,” tutur mereka. Dua pengamen yang menyambut kami Setelah sedikit melemaskan otot dan menyantap makanan yang ada, kami melanjutkan jalan kaki yang cukup panjang. Kali ini menuju Benteng Vredeburg. Tawa bahagia kami seperti tak ada habisnya setelah lelah kerap kali melanda. Kami cukup lama menyusuri spot-spot yang ada di wisata Benteng Vredeburg ini. Setelah dirasa kenyang berfoto di Benteng, tujuan selanjutnya ke Taman Sari, Mbadil mencari informasi kesana-kemari. Akhirnya transportasi becak lah yang kami dipil...

Dia Yang Selalu Tepat Waktu

Sekarang ini malam jumat, tepat satu minggu yang lalu kami (aku, Nita, Noe, Mbadil, Ipeh, Bugil, dan Agum) merencanakan mengunjungi Jogja. Waktu itu kami menetapkan bahwa jam setengah enam pas kumpul di Stasiun Solo Balapan. Jarak kos menuju stasiun sekitar 15-20 menit. Malam itu sesegera mungkin aku berusaha untuk tidur lebih awal. Pagi pun menjelang. Suara kokok ayam member tanda sang fajar yang segera menampakkan pancaran sinarnya. Seusai menunaikan shalat subuh, aku memaksakan diri untuk mandi sepagi itu. Ada yang mencurigakan. Waktu sudah menunjukkan setengah lima pagi, tapi tak ada satupun dari enam orang yang setidaknya menghubungi atau berinisiatif membangunkan tidur yang lain. Apakah hari ini jadi? Benar hari ini kan? Aku dan dua orang diantara mereka sepakat untuk kumpul di boulevard UNS, sekitar jam lima aku memberanikan diri keluar kos sendirian. Aku berjalan menyusuri pagi yang masih sunyi.  Sembari menengok ke arah kanan - kiri - depan - belakang, aku mengi...

Missing Touring

Ada yang tahu apa nama Candi kecil ini? Kebiasaan kami sewaktu touring ketika menemukan view yang cukup apik adalah berfoto, sudah pasti. Kami anak organisasi doyan sekali yang namanya foto-foto, aku pun demikian. Selain sebagai kenangan, melihat foto dengan kilatnya kisah lampau yang sudah tertimbun dengan yang baru muncul di depan mata.   Touring yang sering kami lakukan menjadi pengalaman berharga bersama teman-teman tercinta. Terimakasih untuk semua petualangan yang telah terjadi. Tak sabar akan ada petualangan baru yang kelak bisa kita realisasikan bersama. Menjadi kenangan baru nantinya. Selamat Datang. Candi diatas adalah Candi tanda perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Merindukan touring lagi. Semoga segera.

Bahagia Itu Sederhana

  Di kehidupan sehari-hari, kebahagiaan sering dirasakan dari hal-hal yang sederhana. Seperti saat diberi semangat "kamu pasti bisa kok", lalu dibelikan es teh dengan bejibun es batu didalamnya. Setelah penat seharian diajak nongkrong menikmati malam di bunderan ISI, makan bersama ditemani semilir angin malam di bawah tiang bendera rektorat UNS setelah berkutat dengan urusan organisasi. Main Zuma di sekre dengan volume back sound tinggi dengan logat bahasa jawa yang didubber ulang oleh Pecas Ndahe. Melihat foto-foto orang tersenyum. Bersendagurau membahas hal yang tidak penting, berkaraoke di sembarang jalan, dan masih banyak lagi. Kejadian-kejadian simple seperti itulah yang selalu bisa mengantarkan hawa positif dari berbagai arah kepadaku. Aku akan terus belajar arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahagia jelas bukan berarti melulu banyak harta dan kekuasaan yang didapatkan. Bahagia adalah rasa nyaman yang membuat diri kita semangat melakukan sesuatu. Bahagia adalah ...

Parkir Sudah Menjadi Bubur

Pertama kali makan nasgor depan kampus, ada sesosok orang paruh baya berseragam tukang parkir yang berada disekitar area warung. Warung ini berdekatan dengan gerobak bubur kacang hijau. Beberapa waktu kemudian, ada orang yang ingin membeli bubur kacang hijau. Dengan sigap, bapak yang berseragam tukang parkir tadi melayani pembeli bubur. Aneh, aku dan teman-teman saling berbisik heran melihat tingkahnya. Seusai makan, kami segera beranjak pulang. Pak parkir itu pun menariki uang parkir. Selang beberapa hari, kami makan lagi di sana. Tiap kali kesana, tukang parkir misterius itu selalu menjadi perhatian utama bagi kami. Disela pekerjaannya, pak parkir sekaligus penjual bubur kacang hijau itu bergaya telpon-telponan dengan volume keras dan logat aneh entah dari daerah mana. Meskipun sedang telpon, jika ada yang mau pergi dari halaman parkiran, bapak itu tetap saja fokus dan langsung sigap menerkam mangsanya. Kami memang berlangganan dengan warung nasgor yang satu ini. Warung Ijo nam...

Beranjak

Pertemanan dan persahabatan yang sudah terjalin baik pasti ada rasa saling terhubung antara satu dengan yang lain. Secara tidak disadari, hati mereka terkoneksi. Apa-apa ke mereka, cerita, minta bantuan, senang, susah, sedih. Hal yang paling diutamakan dan diingat pasti  sahabat. Jujur, pasti takut sekali kehilangan itu semua. Jika masanya tiba, masing-masing memiliki kepentingan, kesibukan sendiri, jalan sendiri-sendiri dan pasti ada rasa takut akan rasa bersama yang semakin tergerus. Namun saat itu juga akan ada jalan baru, teman baru dan adaptasi ditempat yang baru. Tidak lagi setiap saat bisa ditemani mereka, meminta bantuan mereka dan ‘perang’ dengan mereka. Pasti akan ada rasa rindu disana. Saat ini harus belajar mandiri, belajar untuk menopang diri tanpa bantuan orang lain. Tidak melulu meminta. Suatu saat nanti jika sudah waktunya tiba, dimana diantara kita mulai terpisah. Aku mencoba siap untuk itu semua. Meskipun sulit.Selamat berproses :)