Langsung ke konten utama

Postingan

Dia Yang Selalu Tepat Waktu

Sekarang ini malam jumat, tepat satu minggu yang lalu kami (aku, Nita, Noe, Mbadil, Ipeh, Bugil, dan Agum) merencanakan mengunjungi Jogja. Waktu itu kami menetapkan bahwa jam setengah enam pas kumpul di Stasiun Solo Balapan. Jarak kos menuju stasiun sekitar 15-20 menit. Malam itu sesegera mungkin aku berusaha untuk tidur lebih awal. Pagi pun menjelang. Suara kokok ayam member tanda sang fajar yang segera menampakkan pancaran sinarnya. Seusai menunaikan shalat subuh, aku memaksakan diri untuk mandi sepagi itu. Ada yang mencurigakan. Waktu sudah menunjukkan setengah lima pagi, tapi tak ada satupun dari enam orang yang setidaknya menghubungi atau berinisiatif membangunkan tidur yang lain. Apakah hari ini jadi? Benar hari ini kan? Aku dan dua orang diantara mereka sepakat untuk kumpul di boulevard UNS, sekitar jam lima aku memberanikan diri keluar kos sendirian. Aku berjalan menyusuri pagi yang masih sunyi.  Sembari menengok ke arah kanan - kiri - depan - belakang, aku mengi...

Missing Touring

Ada yang tahu apa nama Candi kecil ini? Kebiasaan kami sewaktu touring ketika menemukan view yang cukup apik adalah berfoto, sudah pasti. Kami anak organisasi doyan sekali yang namanya foto-foto, aku pun demikian. Selain sebagai kenangan, melihat foto dengan kilatnya kisah lampau yang sudah tertimbun dengan yang baru muncul di depan mata.   Touring yang sering kami lakukan menjadi pengalaman berharga bersama teman-teman tercinta. Terimakasih untuk semua petualangan yang telah terjadi. Tak sabar akan ada petualangan baru yang kelak bisa kita realisasikan bersama. Menjadi kenangan baru nantinya. Selamat Datang. Candi diatas adalah Candi tanda perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur. Merindukan touring lagi. Semoga segera.

Bahagia Itu Sederhana

  Di kehidupan sehari-hari, kebahagiaan sering dirasakan dari hal-hal yang sederhana. Seperti saat diberi semangat "kamu pasti bisa kok", lalu dibelikan es teh dengan bejibun es batu didalamnya. Setelah penat seharian diajak nongkrong menikmati malam di bunderan ISI, makan bersama ditemani semilir angin malam di bawah tiang bendera rektorat UNS setelah berkutat dengan urusan organisasi. Main Zuma di sekre dengan volume back sound tinggi dengan logat bahasa jawa yang didubber ulang oleh Pecas Ndahe. Melihat foto-foto orang tersenyum. Bersendagurau membahas hal yang tidak penting, berkaraoke di sembarang jalan, dan masih banyak lagi. Kejadian-kejadian simple seperti itulah yang selalu bisa mengantarkan hawa positif dari berbagai arah kepadaku. Aku akan terus belajar arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Bahagia jelas bukan berarti melulu banyak harta dan kekuasaan yang didapatkan. Bahagia adalah rasa nyaman yang membuat diri kita semangat melakukan sesuatu. Bahagia adalah ...

Parkir Sudah Menjadi Bubur

Pertama kali makan nasgor depan kampus, ada sesosok orang paruh baya berseragam tukang parkir yang berada disekitar area warung. Warung ini berdekatan dengan gerobak bubur kacang hijau. Beberapa waktu kemudian, ada orang yang ingin membeli bubur kacang hijau. Dengan sigap, bapak yang berseragam tukang parkir tadi melayani pembeli bubur. Aneh, aku dan teman-teman saling berbisik heran melihat tingkahnya. Seusai makan, kami segera beranjak pulang. Pak parkir itu pun menariki uang parkir. Selang beberapa hari, kami makan lagi di sana. Tiap kali kesana, tukang parkir misterius itu selalu menjadi perhatian utama bagi kami. Disela pekerjaannya, pak parkir sekaligus penjual bubur kacang hijau itu bergaya telpon-telponan dengan volume keras dan logat aneh entah dari daerah mana. Meskipun sedang telpon, jika ada yang mau pergi dari halaman parkiran, bapak itu tetap saja fokus dan langsung sigap menerkam mangsanya. Kami memang berlangganan dengan warung nasgor yang satu ini. Warung Ijo nam...

Beranjak

Pertemanan dan persahabatan yang sudah terjalin baik pasti ada rasa saling terhubung antara satu dengan yang lain. Secara tidak disadari, hati mereka terkoneksi. Apa-apa ke mereka, cerita, minta bantuan, senang, susah, sedih. Hal yang paling diutamakan dan diingat pasti  sahabat. Jujur, pasti takut sekali kehilangan itu semua. Jika masanya tiba, masing-masing memiliki kepentingan, kesibukan sendiri, jalan sendiri-sendiri dan pasti ada rasa takut akan rasa bersama yang semakin tergerus. Namun saat itu juga akan ada jalan baru, teman baru dan adaptasi ditempat yang baru. Tidak lagi setiap saat bisa ditemani mereka, meminta bantuan mereka dan ‘perang’ dengan mereka. Pasti akan ada rasa rindu disana. Saat ini harus belajar mandiri, belajar untuk menopang diri tanpa bantuan orang lain. Tidak melulu meminta. Suatu saat nanti jika sudah waktunya tiba, dimana diantara kita mulai terpisah. Aku mencoba siap untuk itu semua. Meskipun sulit.Selamat berproses :)

Hari Raya Qurban

Kisah ini dimulai hari Rabu malam, dua hari sebelum Hari Raya Qurban. Ibu sudah mepersiapkan bahan makanan untuk sahur pagi harinya. Setelah ditanyai, ketiga anak termasuk aku insyaAllah siap untuk melaksanakan puasa Arafah. Malam kian larut, seisi rumah sudah terlelap. Lain denganku yang masih mengutak-atik laptop dengan kesadaran 5 watt. Sempat tertidur dan terbangun jam 2 pagi. Pagi itu aku teringat akan rencana sahur, tetapi masih terlalu dini untuk membangunkan yang lain. Akhirnya aku memutuskan melanjutkan tidurku dan mensetting alarm jam empat pagi. Aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan setengah lima. Alarm yang sengaja dipasang sepertinya sama sekali tidak berbunyi. Tak ada yang membangunkan. Setelah bangun dan mulai sadar, Ibu bercerita bahwa beliau sebenarnya sudah bangun jam empat lalu segera memasak air. Belum ada tanda-tanda air mendidih tapi adzan Subuh sudah berkumandang. Misi semalam failed. Akhirnya hari itu aku dan yang lain berpuasa berbekal niat. Jam delapa...

Dewasa Yang Rumit

Waktu masih kecil aku sempat berpikir dunia orang dewasa itu simple, masalah yang terjadi adalah masalah yang sebenarnya mudah diselesaikan dan tidak terlalu menguras pikiran. Yang penting intinya masalah yang terjadi diselesaikan dengan kepala dingin dan saling menghargai. Mungkin benar bahwa setiap penyelesaian masalah hanya butuh sikap menghargai dari kedua belah pihak dan dengan kepala dingin. Tapi kini ketika aku berjalan menuju dewasa, banyak masalah dari arah yang tidak terduga silih berganti menghampiri. Kali ini aku merasakannya, yang sekarang aku tahu, menyelesaikan masalah tidaklah segampang pikiranku semasa kecil. Tidak semua orang bersedia meminta maaf terlebih dahulu, pun tidak semua orang mudah memaafkan. Tidak semua orang sanggup melapangkan dada atas musibah yang ditimpa akibat kecerobohan orang lain. Tidak semua orang berkepala dingin. Tidak semua orang mau mengalah, sama sepertiku sewaktu kecil bahkan saat ini. Tidak semua orang mau disatukan dengan jalan damai...