Langsung ke konten utama

Postingan

Beranjak

Pertemanan dan persahabatan yang sudah terjalin baik pasti ada rasa saling terhubung antara satu dengan yang lain. Secara tidak disadari, hati mereka terkoneksi. Apa-apa ke mereka, cerita, minta bantuan, senang, susah, sedih. Hal yang paling diutamakan dan diingat pasti  sahabat. Jujur, pasti takut sekali kehilangan itu semua. Jika masanya tiba, masing-masing memiliki kepentingan, kesibukan sendiri, jalan sendiri-sendiri dan pasti ada rasa takut akan rasa bersama yang semakin tergerus. Namun saat itu juga akan ada jalan baru, teman baru dan adaptasi ditempat yang baru. Tidak lagi setiap saat bisa ditemani mereka, meminta bantuan mereka dan ‘perang’ dengan mereka. Pasti akan ada rasa rindu disana. Saat ini harus belajar mandiri, belajar untuk menopang diri tanpa bantuan orang lain. Tidak melulu meminta. Suatu saat nanti jika sudah waktunya tiba, dimana diantara kita mulai terpisah. Aku mencoba siap untuk itu semua. Meskipun sulit.Selamat berproses :)

Hari Raya Qurban

Kisah ini dimulai hari Rabu malam, dua hari sebelum Hari Raya Qurban. Ibu sudah mepersiapkan bahan makanan untuk sahur pagi harinya. Setelah ditanyai, ketiga anak termasuk aku insyaAllah siap untuk melaksanakan puasa Arafah. Malam kian larut, seisi rumah sudah terlelap. Lain denganku yang masih mengutak-atik laptop dengan kesadaran 5 watt. Sempat tertidur dan terbangun jam 2 pagi. Pagi itu aku teringat akan rencana sahur, tetapi masih terlalu dini untuk membangunkan yang lain. Akhirnya aku memutuskan melanjutkan tidurku dan mensetting alarm jam empat pagi. Aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan setengah lima. Alarm yang sengaja dipasang sepertinya sama sekali tidak berbunyi. Tak ada yang membangunkan. Setelah bangun dan mulai sadar, Ibu bercerita bahwa beliau sebenarnya sudah bangun jam empat lalu segera memasak air. Belum ada tanda-tanda air mendidih tapi adzan Subuh sudah berkumandang. Misi semalam failed. Akhirnya hari itu aku dan yang lain berpuasa berbekal niat. Jam delapa...

Dewasa Yang Rumit

Waktu masih kecil aku sempat berpikir dunia orang dewasa itu simple, masalah yang terjadi adalah masalah yang sebenarnya mudah diselesaikan dan tidak terlalu menguras pikiran. Yang penting intinya masalah yang terjadi diselesaikan dengan kepala dingin dan saling menghargai. Mungkin benar bahwa setiap penyelesaian masalah hanya butuh sikap menghargai dari kedua belah pihak dan dengan kepala dingin. Tapi kini ketika aku berjalan menuju dewasa, banyak masalah dari arah yang tidak terduga silih berganti menghampiri. Kali ini aku merasakannya, yang sekarang aku tahu, menyelesaikan masalah tidaklah segampang pikiranku semasa kecil. Tidak semua orang bersedia meminta maaf terlebih dahulu, pun tidak semua orang mudah memaafkan. Tidak semua orang sanggup melapangkan dada atas musibah yang ditimpa akibat kecerobohan orang lain. Tidak semua orang berkepala dingin. Tidak semua orang mau mengalah, sama sepertiku sewaktu kecil bahkan saat ini. Tidak semua orang mau disatukan dengan jalan damai...

Tour Brebes (4): Beberapa Yang Mengena

Pelaku turing berjumlah 16 orang dengan 8 motor, kami berpasangan. Aku-Nisa, Mbak Far-Cuil, Mbak Evi-Emi, Mas Sid-Fik, Mas Fajar – Mas Anjas, Cahyo-Satriyo, Wisnu-Danu, dan terakhir Pandu-Mas Tori.  Saat keberangkatan touring pagi itu, sudah seharusnya awal masuk kuliah. Beberapa teman mengirim pesan padaku dengan pertanyaan seputar kuliah. Tapi aku tetap yakin memilih ikut touring yang menantang ini. Aku berpamitan kepada teman-teman dan minta didoakan agar kembali dengan selamat. Tak apalah, bolos satu minggu. Perjalanan pun dimulai, mengingat adanya pasangan wanita, rata-rata kami beristirahat setelah 1-2 jam berjalan. Berhenti untuk istirahat, mengisi tangki-tangki motor yang mulai kerontang, dan memberi kelegaan pada keteposan pantat-pantat kami. Salah satu tempat favorit pemberhentian kami adalah Pom bensin. Sampai saat ini ketika melintas Pom atau mengisi bensin di Pom sering terlintas perjalanan super yang pernah terjadi waktu itu. Satu Pom unik tak terlupaka...

Tour Brebes (3) : Bertaruh Mencari Jalan

Setelah berdoa bersama agar keselamatan selalu menyertai sampai Solo nanti, akhirnya kami mulai menjalankan motor-motor petualang ini dengan ritme yang sudah direncanakan. Kecepatan maksimal adalah 60-70 km/jam, jangan sampai ada rombongan yang terpisah. Perhatikan teman di depan dan belakang kalian. Kami siap melaju. Perjalanan pulang dari Moga Pemalang adalah hari Jumat, setelah kurang lebih 2 jam kami berhenti di salah satu masjid terdekat yang baru direnovasi saat itu. Untuk para wanita petualang berkeliling mencari mushola yang tak dipakai untuk shalat jumat. Alhasil ditemukan juga mushola di sebuah sekolah dekat masjid. Pintu tertutup. Kami amati ruangan yang diberi plat ‘Mushola’ itu, ternyata rumah yang berpenghuni. Ibu tuan rumah yang keluar menemui kami mempersilahkan untuk shalat di rumahnya. Kami dibuatkan es sirup lengkap dengan berbagai macam makanan kecil. Kami pun cerita banyak soal touring Solo – Brebes yang sedang kami lalui. Beliau mengatakan bahwa teringat anak...

Santi (2): Curhat

baca sebelumnya http://dodelias.blogspot.com/2012/03/salam-kenal-san.html Aku masih dalam proses pengerjaan Tugas Akhir. Tak heran jika aku jarang pulang ke rumah. Paling hanya satu dua hari dalam seminggu. Bersosialisasi pun hanya tetangga terdekat saja, apalagi dengan Santi anak pindahan itu. Berbulan-bulan aku hanya cukup tau ceritanya dari ibu. Beberapa kali kami saling tegur sapa, oh ini yang namanya Santi si anak pindahan yang sering diceritakan itu. Lambat laun dia mengenaliku juga. Kadang jika bertemu, aku mengajaknya bicara. Seperti bertanya, sudah makan apa belum? darimana? Dengan begitu aku bisa sedikit mengenali siapa Santi. Suatu sore aku sedang menguliti kacang di belakang rumah. Dengan langkah tergesa dan raut wajah gelisah, tiba-tiba gadis yang ternyata tidak begitu pendiam itu merapat ke posisi dudukku. Anak ini kenapa, pikirku. "Aku dituduh mencuri Desi mbak." "Lha ceritanya gimana kog bisa kamu yang dituduh?" "Mainan dia kan sama ka...

Tour Brebes (2): Hawa Dingin Moga

Kami dan keluarga Lik Jum di Moga Sekitar jam sepuluh pagi kami siap untuk tujuan berikutnya, Moga. Moga adalah satu dari kecamatan yang ada di kota Brebes. Kami dipersilahkan mampir ke tempat tinggal salah satu saudara Mbadil. Kecamatan ini berada di daerah pegunungan dan kebun teh. Mbadil dan Ibam mengantarkan kami ke tempat Lik Jum, tante mereka. Dibutuhkan waktu kurang lebih dua jam dari daerah Limbangan Wetan Brebes, rumah Mbadil. Jam menunjukkan empat sore, kami sudah berada di kawasan pegunungan dan kebun teh ini. Hawanya sejuk sekali, bisa dibilang dingin malah. Sekali lagi kami disambut senyum ramah dari keluarga Mbadil disini. Segera setelah sampai disana, teh hangat ditemani berbagai camilan disuguhkan. Terimakasih. Keluarga Mbadil menggelengkan kepala melihat kami berenambelas melakukan touring ke Brebes dengan berkendara motor. Rumah Lik Jum sangat dekat dengan kebun teh. Sore harinya beberapa dari kami dipandu salah satu sepupu Mbadil yang bernama Lia untuk ...